THE TRIBUTE TO EYANG ROOSDAL

Semua Sayang Eyang!”

“Mahasiswa nda’ boleh pinter, Cuma dosen yang boleh pinter. Nanti kalau mahasiswa pinter, dosen nda’ ada yang kerja…”____(Eyang Roosdal)

Dinding gedung F kini telah diramaikan dengan mural yang berisikan pesan dan visual yang menggambarkan sosok guru yang paling kita hormati dan sayangi, semuanya serentak berimajinasi memvisualisasikan sosok Eyang Roosdal yang kini berusia 75 tahun. Lengkap dengan beragam visualisasi yang hadir dalam menyemarakan acara tribute to Eyang Roosdal. Ada yang drawing dengan arang, ada yang menggunakan stensil untuk memvisualisasikan wajahnya, ada yang melukisakan jargon-jargon terkenal yang pernah ditanamkannya selama mengajar, dan ada pula yang membuatkannya patung karikatural untuk menghormati jasa-jasanya dalam dunia pendidikan seni rupa, khususnya di gedung F.

Yah, seperti biasanya, tak mau kalah dengan bandung bondowoso yang membangun candi Prambanan, kami pun membuat karya khusus untuk Eyang Roosdal tercinta selama satu malam pengerjaan, dan “lagi-lagi” semuanya untuk Eyang Roosdal. Semuanya pun ikut terlibat, dari alumni hingga mahasiswa dari angkatan yang paling “fresh” ikut terlibat dan turut meramaikan acara tribute to Eyang Roosdal ini.

Setelah sempat diundur, akhirnya pelaksanaan syukuran dan tribute to eyang Roosdal direaslisasikan oleh segenap Keluarga Besar Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta pada hari kamis, 24 Desember 2009 yang lalu di depan gedung F.

Bunyi sirine dadakan dari sepeda motor yang mengiringi kedatangan tamu terhormat di Keluarga Besar Seni Rupa kian mendekat dan nyaring di telinga ketika iring-iringan itu masuk ke dalam kampus A Universitas Negeri Jakarta.

Tepat Pukul 16.30 WIB, eyang Roosdal, akhirnya sampai di depan jurusan seni rupa. Dengan langkah tertatih, memandang sekeliling, dan terheran-heran, eyang menitikan air mata ketika dirinya sadar bahwa eyang memang kami tunggu-tunggu. Sorak-sorak nan riuh bersambut dengan tepuk tangan mengiringi kedatangan eyang Roosdal di Jurusan.

Masih mengenakan topi kertas berbentuk kerucut berwarna emas, eyang terdiam tak berkata-kata. Pandangannya yang tajam kini luluh dan berkaca-kaca. Sungguh kami yang hadir pada saat itu merasa terharu dan bercampur rasa bangga. Aura kecintaan, rasa persaudaraan, dan semangat kekeluargaan pun menebal ketika orang yang paling kita hormati dan sayangi dapat hadir dan berkumpul  di tengah-tengah kita yang hadir waktu itu.

Suasana ramai, sempat hening, kembali ramai ketika ucapan pertama yang dilontarkan eyang Roosdal “lagi-lagi” guyonan. Yah apapun itu, itulah Eyang Roosdal, guru bagi kita semua, sekaligus orang tua yang hingga saat ini masih mendedikasikan dirinya dalam dunia pendidikan khususnya di jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta.

“saya mengajar di sini sejak tahun 1969”, setidaknya itulah kata-kata yang masih saya ingat ketika MG (MG Pringgotono), yang saat itu membawakan acara menanyakan sejak kapan eyang Roosdal mengajar di Jurusan Seni Rupa. Kalau di pikir-pikir, sudah 40 tahun beliau mendedikasikan hidupnya  untuk mengajarkan para mahasiswa untuk tidak bosan-bosannya belajar menggambar.

Tak hanya dedikasi, dan jasa-jasanya yang besar dalam mengajarkan para mahasiswa menggambar, eyang roosdal pun tak segan-segan menanamkan jargon yang bagi masing-masing mahasiswanya memiliki pesan, kesan, dan arti tersendiri. Semuanya adalah untuk kepentingan dan kemajuan mahasiswanya, “mudah-mudahan apa yang saya ajarkan masih di inget!” ujarnya.

Bila kita pikirkan kembali, acara dan pemberian kami, memang belum seberapa dibandingkan dengan dedikasinya selama ini yang terus memperjuangkan semangat dan kemampuan para mahasiswanya dalam belajar menggambar. Semangat kekeluargaan dan rasa memiliki eyang sebagai orang tua lah yang membuat hati kami serentak bergegas mempersembahkan sebuah acara guna menghormati jasa-jasanya.

Keinginannya tulus, hanya ingin para mahasiswanya berhasil, pandai, dan dapat mengajarkannya lagi kepada orang lain. Semoga di usianya kini, eyang masih diberikan kesehatan, dan semangat yang kuat untuk mengajarkan generasi penerus di jurusan seni rupa dan bisa membawa nama baik IKIP/UNJ di masyarakat.

Hari “otoy” Prasetyo

TUTORIAL MURAL

Kembali mengudara!!!

Tampaknya pesan singkat yang cukup pantas disematkan untuk Bopik dan Indra Jadul, yang akan segera meluncurkan karya ter-anyar mereka berupa tutorial mural. Yang menarik untuk disimak adalah keduanya mengemas tutorial mural tersebut melalui media komik. Namun sampai saat ini kita belum tahu pasti, seperti apakah komik ini kedepannya?

bravo buat Bopik dan Jadul, SEMANGAT !!!

MURAL PROJECT

MOM’s DAY

21 Desember 2009, mendekati  tengah malam, kami  garis keras, serum, ashtwo ( isip ), propagrapric, corat coret, pacret bergegas menyiapkan diri dan menyiapkan segala perlengkapan berkarya kami menuju dinding tepi jalan, tepatnya di depan perempatan lampu merah jalan Pemuda – Rawamangun.

Guna memperingati Hari Ibu yang jatuh tepat keesokan harinya yaitu 22 Desember, dinding-dinding tepi jalan yang berisikan coretan, gambar, poster-poster liar, dan mural lama yang telah usang kini segera disulap dan diperbaharui dengan gambar-gambar yang sarat akan pesan sosial, sebuah pesan kerinduan yang mencoba mengingatkan kita kembali pada sosok terdekat kita yang selalu kita rindukan, Ibu.

Gambar-gambar, mural-mural, ataupun sebuah pesan teks yang dibuat hendaknya dapat menjadi pesan bagi kita semua untuk kembali mengingat, merenungkan kembali seraya mengutarakan maksud ucapan rasa terima kasih kita yang terdalam pada seorang Ibu.

Project mural kali ini, memang terbilang spontanitas dan berpaku pada satu titik eksekusi, mengingat bahwa perencanaan untuk menggelar event ini cukup singkat dan hanya berkisar hitungan hari, sehingga banyak rekan-rekan di jurusan yang memang belum mendengar kabar akan adanya project mural bersama ini.

Tepat pukul 22.00 WIB, bopik sebagai komando dalam projek mural kali ini, mulai berjalan menyusuri kampus hingga ke lokasi yang memang tidak jauh dari kampus. Bermodalkan media yang tidak terlalu lengkap, mereka memberanikan diri untuk menyampaikan segala keluh kesah dan rasa kecintaan mereka pada sosok Ibu melalui ekspresi seni, khususnya mural.

Hari “otoy” Prasetyo

THE TRIBUTE TO EYANG ROOSDAL

acara dijadwalkan pada hari senin tanggal 21 Desember 2009 ini ditunda pelaksanaannya, dan segera diselenggarakan pada tanggal 24 Desember 2009.

KRESSEK 3

Menyimak Hari Pendidikan Nasional melalui Kreativitas Seni Kampus

Ada berbagai cara yang akan dilakukan masyarakat untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2010 yang akan datang, dan semuanya masih berupa kemungkinan. Ada yang memperingatinya dengan kegiatan formal, seminar dan diskusi, serta ada pula yang memperingatinya dengan berbagai aksi unjuk rasa.

Mereka yang berunjuk rasa bermacam-macam pula, ada mahasiswa, guru bantu, bahkan anak-anak SD pun ikut pula berdemo ria menyuarakan berbagai polemik pendidikan di tanah air.

Begitulah sekelumit warna-warni peringatan Hardiknas di tanah air. Peristiwa-peristiwa tersebut agaknya bisa menjadi gambaran dinamika pendidikan di negeri ini. Ada yang positif, ada yang negatif. Ada harapan, ada pula keputusasaan. Ada kreativitas, ada pula yang destruktif.
Dengan kata lain masih banyak ‘PR’ yang harus diselesaikan pemerintah dan berbagai stake holder pendidikan.

Dengan menyimak berbagai permasalahan yang ada di wilayah pendidikan, selaku institusi pendidikan yang berdiri di ibukota Negara, sudah seharusnya kita memberikan sumbangsih dalam memajukan dunia pendidikan kita. Sebagai mahasiswa jurusan seni rupa Universitas Negeri Jakarta, yang nantinya akan terjun sebagai tenaga edukasi di masyarakat, kami merasa peduli terhadap perkembangan dunia pendidikan kita saat ini. Banyak jalan yang kami coba telusuri guna mengantarkan generasi muda penerus bangsa menuju pada kemajuan khususnya dalam dunia pendidikan.


Bagi kami, banyak cara yang dapat dilakukan guna mengisi dan merespon semangat hari pendidikan nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei. Kami berusaha sekreatif mungkin dan memberikan inovasi dalam memperingati hari pendidikan nasional. Kressek, adalah sebuah akronim yang kami buat sejak tahun 2000 yang kepanjangannya adalah Kreativitas Seni Kampus, dan telah diselenggarakan dua kali, yaitu tahun 2000 dan tahun 2004.

Bila kita membacanya kembali, Kressek, adalah sebuah kata yang sering terdengar dan sudah tak asing lagi di telinga kita. Dalam pengertian sehari-hari, kressek adalah kata benda yaitu sebuah kantung atau wadah yang biasanya membungkus barang-barang belanjaan bila kita berbelanja di warung-warung kecil, ataupun di pasar. Sesuai namanya, bunyi yang ditimbulkannya pun berbunyi kressek dan terkadang cukup mengganggu di telinga kita. Ya itulah filosofi dasar kressek (kreativitas seni kampus), berasal dari sebuah kantong kressek yang berbunyi kressek, memiliki makna sebuah tempat atau wadah yang mampu menampung berbagai benda, dan memilki suara yang cukup mengganggu bila bersentuhan atau berinteraksi langsung dengan benda-benda yang berada dalam ruang lingkup di sekitarnya.

Atas dasar itulah muncul sebuah gagasan untuk membuat sebuah acara yang pada intinya adalah dapat menampung berbagai kegiatan serta dapat mengusik hal yang umum, biasa, ataupun monoton, dengan konteks utamanya yaitu kegiatan yang mengarah pada kreativitas seni. Dengan kata lain, Kressek tersebut mampu memberikan nilai positif dan inovatif dalam masyarakat, bahwa kita sebagai institusi pendidikan yang berada di Ibukota Negara, memiliki cara yang unik, cara tersendiri dalam menyikapi hari pendidikan nasional yang akan kita peringati kembali pada tanggal 2 mei 2010 yang akan datang. Menyadari sangat pentingnya acara tersebut, dukungan dari semua pihak sangat dibutuhkan. Hal ini tidak terlepas dari pentingnya mewujudkan kreativitas seni kampus yang bertanggung jawab dalam masyarakat.

Kressek adalah : sebuah acara yang diusung Keluarga Besar Mahasiwa Universitas Negeri Jakarta dalam rangka mengenalkan kegiatan kreativitas seni kampus Universitas Negeri Jakarta pada dunia luar dengan berlandaskan komitmen bersama untuk menggagas sebuah project dan aktifitas seni alternatif : memaknai Hari Pendidikan Nasional melalui Kreativitas Seni Kampus

REWIND ART#9

TIDAK ADA PERTUNJUKKAN HARI INI

Tujuh hari seminggu , 24 jam, 1440 menit,  86400 detik setiap hari adalah performance yang secara sadar maupun tidak sadar kita lakukan, terkadang berulang, terencana, ataupun secara spontanitas. Saya, aku, kita, mereka, dia, kalian ataupun anda adalah pelaku performance aktif dan pasif.

Apa yang terlintas dalam benak, kemudian direalisasikan dalam kehidupan nyata adalah sebuah performance. Kata performance yang merujuk pada pengertian sebuah pertunjukan atau penampilan adalah hal yang sering terdengar dalam dunia kesenian ataupun panggung hiburan.

Masih minimnya teori yang menyatakan sebuah tindakan itu dapat disebut sebagai performance atau tidak, menyebabkan performance itu kehilangan arahnya. Belum lagi jika kata performance itu ditambahkan sebuah kata “art” pada bagian akhirnya.

Bilamana kata performance saja belum memiliki batasan dan landasan yang cukup kuat untuk dijadikan pijakan yang cenderung mengarah pada sebuah pertunjukkan, bagaimana dengan kata “art” yang jelas-jelas merujuk pada disiplin ilmu seni rupa.

Sengaja ataupun tidak disengaja, disadari ataupun tidak, sesungguhnya kita berada dalam wilayah yang abu-abu. Pola yang sama baik secara terencana ataupun tidak, adalah hal yang sangat mendasar dan dapat menjerumuskan setiap pelaku dalam dunia pertunjukkan kearah yang bias.

Tidak ada pertunjukkan hari ini adalah hal naïf yang diutarakan dan kemudian menjadi sebuah gagasan yang ditawarkan dalam sebuah pertunjukkan REWIND ART #9 kali ini. setuju atau tidak adalah sebuah kesepakatan yang akan muncul nantinya. Namun inti yang ditawarkan dalam tema kali ini adalah bahwa sebuah pertunjukkan idealnya adalah dapat diapresiasi dan dinikmati oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja, tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Apa yang direalisasikan adalah hal biasa dan cukup naïf untuk diperbincangkan. Apapun gagasan, bentuk penyampaian, ekspresi yang diungkapkan, hingga teknis yang dipertimbangkan adalah rahasia pribadi yang ditawarkan kepada audience untuk kembali bermain dengan persepsi dan naluri pribadi. Apa yang dipikirkan dan terealisasikan kemudian, adalah sebuah persoalan personal yang hanya dimiliki seorang aktor yang bermain dengan gagasan dan lingkungan sosial di sekitarnya.

Naïf itu menjadi nyata dan semakin terlihat jelas, jika pada akhirnya manifes-manifes yang muncul di awal, berubah dan berkembang menjadi beragam persepsi yang terus-menerus berkembang seiring berkembangnya wacana yang muncul dan mengikuti waktu yang terus berputar. Batasan-batasan pun semakin hilang manakala kita tidak menyikapinya dan menyatakan hal tersebut ke dalam wilayah yang otonom.

Kembali berpikir adalah hal yang mampu menjawab sebuah pertunjukkan yang saya, aku, kita, mereka, dia, kalian ataupun anda lakukan selama tujuh hari seminggu , 24 jam, 1440 menit,  86400 detik setiap hari sabagai pertunjukkan yang secara sadar maupun tidak sadar dilakukan, terkadang berulang, terencana, ataupun secara spontanitas sebagai pelaku pertunjukkan aktif dan pasif.

PERSELFTIVE

Jakarta. Perselftive yang menjadi akronim dari Personal, Self dan Perspective adalah sebuah judul yang hendak diketengahkan oleh sejumlah mahasiswa dan mahasiswi jurusan seni rupa Universitas Negeri Jakarta ketika menggelar karya-karya mereka dalam Seminar Persiapan Tugas Akhir Karya Inovatif  sebagai  upaya menempuh  tugas akhir.

Sebanyak empat belas mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam pameran tersebut mencoba mengetengahkan tema  pada lingkup manusia dan lingkungannya. Kesemuanya membawa perspektif yang berbeda dalam menerjemahkan konsep manusia dan lingkungannya. Ari Suprayogo, Chairunisa, Dwiputri Restiani, Galih R. Santosa, Gunawan Wibisono, Hamdi Ahadi, JJ Adibrata, Khairul Ramdhani, Murniati, M. Sigit Budi S., Nenis Fauziah, Purwanto, Rahmat Muslim, dan Triyanugrah Harefa adalah sejumlah mahasiswa dan mahasiswi yang turut serta dalam pameran tersebut.

Dalam pengantar katalog pameran, Drs. Eddy Fauzi Effendi M.Sn selaku kepala jurusan seni rupa Universitas Negeri Jakarta menuliskan bahwa sebagai individu dan anggota masyarakat , mahasiswa seni rupa terus mencari cara untuk eksis dan mengemukakan pikiran serta hasratnya melalui berkarya. Karya seni rupa sebagai hasil pikir dan rasa mereka, merupakan realitas kehidupan yang dimaknai sebagai perspektif yang dapat ditinjau dari kompleksitas atau dianggap sederhana saja. Demikian pula dari kaca mata perupa tindakan manusia terhadap lingkungannya dapat dilihat dari sisi negatif dan positif. Antara lain ketika mahasiswa seni rupa mersepon fenomena kehidupan berdasarkan pengalaman berinteraksi antar individu, antar sosial, dan antar lingkungannya. Para mahasiswa seni rupa menuangkan hasil perenungannya, kegelisahannya,  masalah dan gagasannya dalam karya Seminar Persiapan Tugas Akhir Karya Inovatif ke dalam bahasa visual melalui medium rupa dan unsur estetik pada karya-karya mereka.

Dari karya-karya yang dipamerkan saat ini kriteria di atas tampak pada karya media ambient Galih R. Santosa tentang pollution effect terhadap polusi udara, pada karya komik Rahmat Muslim, Character Profile of Panarumbak yang mengingatkan kita pada kearifan alam, serta pada karya lukis Gunawan Wibisono yang mengangkat tema mengenai pengaruh negatif televisi dalam kehidupan. Sebagian perupa ini merenungkan posisi dirinya sebagai manusia yang memiliki hak hidup walaupun kondisi situasi mengepung mereka secara internal seperti yang dituangkan pada karya lukis Triyanugrah Harefa alias Roky yang berjudul introvert dan ragu untuk menjadi diri sendiri, atau pada karya grafis lino Khairul Ramdhani yang mengusung kehidupannya yang berlatar belakang hidup sebagai Punk, demikian pula dengan karya patung cetak Dwi Putri Restiani yang merindukan kehidupan masa kecil yang penuh dengan permainan dan fantasi dengan teman-teman setianya yang ditampilkan pada karya patungnya yang berjudul Aku dan Pussy, Pussy dan Aku.

Menyimak karya-karya yang disuguhkan dalam “Perselftive” tersebut seraya memberikan kita sebuah cerminan yang sangat besar bagi kita untuk merenungkan kembali ke-eksisan diri kita sebagai manusia yang nyata-nyata dituliskan sebagai mahluk individu dan mahluk sosial dengan lingkungan sekitarnya dalam berbagai sudut pandang dan ragam penyajian yang berbeda.

Selain karya lukis, drawing,  patung, komik, media ambient, desain produk dan grafis murni, Perselftive sebagai sebuah pameran juga menyajikan bentuk interaktif lain bagi masyarakat umum yang ingin berapresiasi dan berinteraksi di dalamnya. Dalam pameran tersebut beragam acara menarik pun di gelar seperti diskusi yang mengangkat tema “Kecenderungan Visual perupa  Muda Dalam Lingkungan Akademis” dengan pembicara Sem Cornelius Bangun (Kritikus Seni Rupa), Ade Darmawan dan Dida Ibrahim.

Hal menarik lainnya adalah digelarnya workshop Lino Cut dan Workshop Origami Batik yang terbuka untuk umum. Menyinggung workshop yang digelar, workshop origami batik adalah hal yang sangat berbeda dan memberikan warna tersendiri. Mengingat bahwa workshop ini menggabungkan dua budaya yang jelas-jelas berbeda. Batik adalah kesenian asli yang  berasal dari Indonesia dan Origami adalah kesenian tradisional khas Jepang yang telah membahana. Sebanyak 25 orang masyarakat umum mengikuti workshop tersebut dipandu oleh para tutor selaku pameris seperti Nenis Fauziah, Chairunisa dan Dwiputri Restiani.

Menurut mereka, batik sebagai karya seni asli Indonesia sudah seharusnya dapat bersaing di pasar Internasional dan melahirkan inovasi dalam penyajiannya. Karena beragam bentuk penyajian yang dapat diterapkan dalam batik dan menjadikannya sebagai lapangan pekerjaan baru. Sedangkan origami yang kita kenal sebagai kesenian melipat khas jepang sangat fleksibel penerapannya. Hasil karya origami dapat dibuat dan diproduksi secara masal, dan kini semakin marak diminati di pasaran baik lokal maupun internasional. Sebut saja lampion ataupun boneka kertas yang sangat terkenal sebagai hiasan ataupun cinderamata dai negeri sakura. Jadi, mengapa tidak jika kita memadukan dua kesenian tersebut dalam satu media, sehingga akan menghasilkan karya seni yang inovatif, menarik, dan laku di pasaran.

Output yang dihasilkan dari workshop origami batik yang digelar tersebut adalah para peserta pada akhirnya mampu membuat sejumlah benda fungsional seperti tas, ikat pinggang, sandal, ataupun boneka kecil yang sangat menarik. Pameran tersebut digelar sejak tanggal 19 Juni hingga 2 Juli 2009, di Galeri Japan Foundation, Gedung Summitmas I Lantai 2, Jl. Jendral Sudirman Kav.61-62, Jakarta.

Hari Prasetyo

majalah visual arts #32

hal.17